mendengar kata kerajaan palembang darussalam saja sudah membuat hati kita bergetar semangat memuncah dan hati menjadi tenang namun pernah gak sih terlintas di kepala kita sebenarnya siapa sih raja raja di kerajaan palembang darussalam {kok baru sekarang ya terlintasnya di kepala anda} ya di kepala anda baru terlintas pikiran ini fanatisme yang tersembunyi di balik diri anda baru mulai bangkit fanatisme yang selama ini dipenuhi oleh dongeng legenda dan gosip dak jelas sekarang kita akan membedah misteri kerajaan palembang hehehe tentang siapa sebenarnya raja raja palembang darussalam berasal
kerajaan palembang darussalam
Kesultanan Palembang Darussalam adalah suatu
kerajaan Islam di
Indonesia yang berlokasi di sekitar
kota Palembang,
Sumatera Selatan sekarang. Kesultanan ini diproklamirkan oleh
Sri Susuhunan Abdurrahman, seorang
bangsawan Palembang keturunan
Jawa pada tahun
1659, dan dihapuskan keberadaannya oleh pemerintah kolonial
Belanda pada
7 Oktober 1823. {hapus aja gak papa saya ikhlas malu maluin juga}
Malthe Conrad Bruun (1755-1826) seorang petualang dan ahli geografi dari
Perancis
mendeskripsikan keadaan masyarakat dan kota kerajaan waktu itu, yang
telah dihuni oleh masyarakat yang heterogen terdiri dari Cina, Siam,
Melayu dan Jawa serta juga disebutkan bangunan yang telah dibuat dengan
batu bata hanya sebuah vihara dan istana kerajaan.
dari kutipan yang saya copy paste dari wikipedia sudah jelas bahwa orang orang juga tahu bahwa kerajaan palembang darussalam ini yang punya bukan orang palembang bukan yang punya orang jawa {hih seram}
asal mula berdirinya kerajaan palembang darussalam
Sejarah mengenai Kesultanan Palembang dapat dimulai pada pertengahan abad ke-15 pada masa hidupnya seorang tokoh bernama Ario Dillah atau Ario Damar.
Beliau adalah seorang putera dari raja Majapahit yang terakhir, yang
mewakili kerajaan Majapahit bergelar Adipati Ario Damar yang berkuasa
antara tahun 1455-1486 di Palembang Lamo,
yang sekarang ini letaknya di kawasan 1 ilir. Pada saat kedatangan Ario
Damar ke Palembang, penduduk dan rakyat Palembang sudah banyak yang
memeluk agama Islam dan Adipati Ario Damar pun mungkin kemudian memeluk
agama Islam, konon namanya berubah menjadi Ario Abdillah atau Ario Dillah (Dalam bahasa Jawa damar = dillah = lampu).
Ario
Dillah mendapat hadiah dari Raja Majapahit terakhir Prabu Kertabumi
Brawijaya V salah seorang isterinya keturunan Cina (kadang-kadang
disebut juga Puteri Champa) yang
telah memeluk Islam dan dibuatkan istana untuk Puteri. Pada saat putri
ini diboyong ke Palembang ia sedang mengandung, kemudian lahir anaknya
yang bernama Raden Fatah. Menurut
cerita tutur yang ada di Palembang, Raden Fatah ini lahir di istana Ario
Dillah di kawasan Palembang lama (1 ilir), tempat itu dahulu dinamakan Candi ing Laras,
yaitu sekarang terletak di antara PUSRI I dan PUSRI II. Raden Fatah
dipelihara dan dididik oleh Ario Dillah menurut agama Islam dan menjadi
seorang ulama Islam. Sementara itu hasil perkawinan Ario Dillah dengan
putri Cina tersebut, lahir Raden Kusen yaitu adik Raden Fatah lain bapak.
Setelah
kerajaan Majapahit bubar karena desakan kerajaan-kerajaan Islam, Sunan
Ngampel, sebagai wakil Walisongo, mengangkat Raden Fatah menjadi
penguasa seluruh Jawa, menggantikan ayahnya. Pusat kerajaan Jawa
dipindahkan ke Demak. Atas bantuan dari daerah-daerah lainnya yang sudah
lepas dari Majapahit seperti Jepara, Tuban, Gresik, Raden Fatah
mendirikan Kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya (kira-kira tahun
1481). Raden Fatah memperoleh gelar Senapati Jimbun Ngabdu’r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata’Gama.
Kuto Gawang Pada awal abad ke-17, Palembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang bernuansa Islam dengan pendirinya
Ki Gede ing Suro, bangsawan pelarian dari
Kesultanan Demak akibat kemelut politik setelah mangkatnya
Sultan Trenggana.
Pada masa ini pusat pemerintahan di daerah sekitar Kelurahan 2-Ilir, di
tempat yang sekarang merupakan kompleks PT Pupuk Sriwijaya. Secara
alamiah lokasi keraton cukup strategis, dan secara teknis diperkuat oleh
dinding tebal dari kayu unglen dan cerucup yang membentang antara Plaju
dengan Pulau Kembaro, sebuah pulau kecil yang letaknya di tengah
Sungai Musi.
Keraton Palembang yang dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang yang
bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu
unglen yang tebalnya 30 x 30 cm/batangnya. Kota berbenteng yang di
kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290
Rijnlandsche roede (1093 meter) baik panjang maupun lebarnya. Tinggi
dinding yang mengitarinya 24 kaki (7,25 meter). Orang-orang Tionghoa dan
Portugis berdiam berseberangan yang terletak di tepi sungai Musi. Kota
berbenteng ini sebagaimana dilukiskan pada tahun 1659 (Sketsa Joan van
der Laen), menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu
masuknya melalui Sungai Rengas. Di sebelah timurnya berbatasan dengan
Sungai Taligawe, dan di sebelah baratnya ber¬batasan dengan Sungai Buah.
Dalam gambar sketsa tahun 1659 tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas,
dan Sungai Buah tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak
bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah pagar dari kayu besi
dan kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak berdiri megah bangunan
keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Benteng keraton
mempunyai tiga buah baluarti (bastion) yang dibuat dari konstruksi batu.
Orang-orang asing ditempatkan/ber¬mukim di sebe¬rang sungai sisi
selatan Musi, di sebelah barat muara sungai Komering (sekarang daerah
Seberang Ulu, Plaju).
Beringin Janggut Setelah Keraton Kuto Gawang dihancurkan VOC
tahun 1659, oleh Susuhunan Abdurrahman pusat pemerintahan dipindahkan ke
Beringin Janggut yang letaknya di sekitar kawasan Mesjid Lama (Jl.
Segaran). Sayang data tertulis maupun gambar sketsa mengenai keberadaan,
bentuk, dan ukuran keraton ini hingga saat ini tidak ada. Daerah
sekitar Keraton Beringin Janggut diba¬tasi oleh sungai-sungai yang
saling berhubungan. Kawasan keraton di¬batasi oleh Sungai Musi di
selatan, Sungai Tengkuruk di sebelah barat, Sungai Penedan di sebelah
utara, dan Sungai Rendang/Sungai Karang Waru di sebelah timur. Sungai
Penedan merupakan sebuah kanal yang menghubungkan Sungai Kemenduran,
Sungai Kapuran, dan Sungai Kebon Duku. Karena sungai-sungai ini saling
berhubungan, penduduk yang mengadakan perjalanan dari Sungai Rendang ke
Sungai Tengkuruk, tidak lagi harus keluar melalui Sungai Musi. Dari
petunjuk ini dapat diperoleh gambaran bahwa aktivitas sehari-hari pada
masa itu telah berlang¬sung di darat agak jauh dari Sungai Musi.
Kuto Tengkuruk Kawasan inti Keraton Kesultanan
Palembang-Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I
luasnya sekitar 50 hektar dengan batas-batas di sebelah utara Sungai
Kapuran, di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Tengkuruk (sekarang
menjadi Jl. Jenderal Soedirman), di sebelah selatan berbatasan dengan
Sungai Musi, dan di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Sekanak. Pada
awalnya di areal tanah yang luasnya sekitar 50 hektar ini hanya
terdapat bangunan Kuto Batu atau Kuto Tengkuruk dan Masjid Agung dengan
sebuah menara yang atapnya berbentuk kubah. Pada saat ini batas kota
Palembang kira-kira di sebelah timur berbatasan dengan Kompleks PT.
Pusri, di sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Musi, di sebelah
barat berbatasan dengan Sungai Lambidaro (36 Ilir), dan di sebelah utara
hingga sekitar Pasar Cinde.
Kuto Besak Pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Bahaudin
(1776-1803), dibangun Keraton Kuto Besak. Letaknya di sebelah barat
Keraton Kuto Tengkuruk. Kuto ini mempunyai ukuran panjang 288,75 meter,
lebar 183,75 meter, tinggi 9,99 meter, dan tebal dinding 1,99 meter
membujur arah barat-timur (hulu-hilir Musi). Di setiap sudutnya terdapat
bastion. Bastion yang terletak di sudut baratlaut bentuknya berbeda
dengan tiga bastion lain, sama seperti pada bastion yang sering
ditemukan pada benteng-benteng lain di Indonesia. Justru ketiga bastion
yang sama itu merupakan ciri khas bastion Benteng Kuto Besak. Di sisi
timur, selatan, dan barat terdapat pintu masuk benteng. Pintu gerbang
utama yang disebut lawang kuto terletak di sisi sebelah selatan
menghadap ke Sungai Musi. Pintu masuk lainnya yang disebut lawang
buratan jumlahnya ada dua, tetapi yang masih tersisa hanya sebuah di
sisi barat. Perang Palembang 1821 dan dibubarkannya institusi Kesultanan
pada 7 Oktober 1823, bangunan Kuto Tengkuruk diratakan dengan tanah. Di
atas runtuhan Kuto Tengkuruk, atas perintah van Sevenhoven kemudian
dibangun rumah Regeering Commissaris yang sekarang menjadi Museum Sultan
Mahmud Badaruddin II (Bambang Budi Utomo)
Silsilah Kesultanan Palembang Darusalam
1. Sultan Ratu Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam (1659-1706)
2. Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706-1714)
3. Sultan Agung Komarudin Sri Teruno (1714-1724)
4. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (1724-1758)
5. Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1758-1776)
6. Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803)
7. Sultan Susuhunan Muhammad Badaruddin II (1803-1821)
8. Sultan Ahmad Najamuddin II / Susuhunan Husin Dhiauddin (1813-1817)
9. Sultan Ahmad Najamuddin III / Pangeran Ratu (1819-1821)
10. Sulatn Ahmad Najamuddin IV / Prabu Anom (1821-1823)
11. Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin (2006-.....){heleh jawa aja}
cerita+
Asal Usul dari keturunan Raja-Raja dan Sultan-Sultan Pelembang itu ada 3 (tiga) Jalur, yaitu sebegai berikut ini :
6.1. JALUR RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK)
Raja pelembang baru yang pertama adalah
Ki Hang Suro Tuo Sangaji Lor yang memerintah dari tahun 1550 s/d 1555
masehi. Beliau adalah cucu dari Raden Fattah Sultan Demak atau anak dari
Raden sedakali Pangeran Seberang Lor seda Ing Lautan Pati Unus sultan
Demak II.
Jika pada masa pemerintahan Prabu
Ariodillah (Ariodamar) Kerajaan Pelembang dinamakannya PELIMBANGAN yang
lokasinya adalah kampung tatang 36 ilir Pelembang sekarang ini. Maka
pada masa Ki Hang Suro Tuo, nama PELIMBANGAN digantinya menjadi
PELIMBANG BARU Yang berlokasi di batu Hampar seberang ilir pelembang
lama sekarang ini.
Ki Hang Suro Tuo Sangaji Lor wafat pada tahun 1555 masehi,
6.2. JALUR KETURUNAN SUNAN AMPELDENTA
Raja Pelimbanga ke II
KI GEDE ING SURO MUDO SANGAJI WETAN
Disebabkan KI HANG SURO TUO (atau KI
GEDE ING SURO TUO) tidak mempunyai anak, maka Raja Pelimbang ke II ialah
kemenakannya sendiri yang bernama Ki Gede ing Suro Mudo anak dari Sunan
Ampel Denta Surabaya dan ibunya Nyai Gede ing ilir adik dari Ki Gede
Ing suro Tuo. Ki Gede Ing Suro Mudo meninggal dunia pada tahun 1589
setelah memerintah selama 34 tahun (1555 – 1589) dan dimakamkan
dipemakaman Batu Hampar dekat makam Ki Gede ing Suro Tuo.
Raja Pelimbang ke III
KI MAS ADIPATI ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Raja Pelimbang Baru berikutnya yang ke III
adalah anak Ki Gede ing Suro Mudo, yaitu Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki
Gede ing Suro Mudo yang memerintah selama 5 tahun saja (1589-1594)
Lokasi Istana kerajaannya tidak lagi di Batu Hampar tetapi dipindahkan
ke TALANG JAWA LAMA.
(Raja Pelimbang ke IV)
PANGERAN MADI ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Oleh karena ketika Ki Mas Adipati Angsoko
meninggal dunia, anaknya yang bernama Pangeran Seda ing Kenayan masih
kecil, maka Tahta Raja Pelimbang ke IV jatuh kepada saudaranya sendiri
bernama PANGERAN MADI ANGSOKO yang memerintah selama 30 tahun (1594 –
1624) dan ketika meninggal tidak meninggalkan anak, maka tahta
diserahkan kepada adiknya bernama PANGERAN MEDI ALIT ANGSOKO.
Raja Pelimbang ke V
PANGERAN MEDI ALIT ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Raja Pelimbang baru yang ke V ini hanya
memerintah selama satu tahun saja (1624-1625) dan tidak juga mempunyai
anak, dan Beliau digantikan oleh adiknya yang.bernama PANGERAN SEDA ING
PURO ANGSOKO
Raja Pelimbang ke VI
PANGERAN SEDA ING PURO ANGSOKO
Bin KI GEDE ING SURO MUDO
Pengeran Seda Ing Puro Angsoko memerintah
selaku Raja Pelimbang selama 7 tahun (1625 – 1632) dan Beliaupun tidak
ada meninggalkan anak, Kedudukannya digantikan oleh anak Kakaknya (KI
MAS ADIPATI ANGSOKO) yang bernama PANGERAN SEDA ING KENAYAN.
Raja Pelimbang ke VII
PANGERAN SEDA ING KENAYAN SABO ING KINGKING
Bin KI MAS ADIPATI ANGSOKO
Pangeran seda Ing Kenayan adalah Anak
Ki Mas Adipati Angsoko (Raja ke III) Pangeran Seda Ing Kenayan tidak
lagi meneruskan dinasti Angsoko tetapi telah membuat dinasti baru yaitu
dinasti Sabo Ing King King, Beliau memerintah selama 12 tahun (1632 –
1644) lokasi istananya dipindah pula ke daerah Sabo KingKing Kelurahn 1
ilir Palembang lama sekarang Pangeran Seda ing Kenayan Sabo ing KingKing
beristrikan saudara misan / sepupuhnya sendiri yaitu Ratu Sinuhun
Simbur Cahaya, Merekapun tidak memiliki anak. Dengan demikian habislah
Keturunan ki Gede ing Suro Mudo atau keturunan Sunan Ampel Denta
Surabaya
6.3. JALUR KETURUNAN SUNAN GIRI GERSIK
Raja Pelimbang ke VIII
PANGERAN MOH ALI SEDA ING PASAREAN SABO ING KINGKING
Oleh karena Suami Istri Pangeran Seda
Ing Kenayan dan ratu sinuhun simburcahaya tidak menurunkan anak maka
Tahta kerajaan dilimpahkan kepada saudara tua (kakak) Ratu Sinuhun
bernama Pangeran
Moh.Ali Seda
ing Pasarean gelar Sultan Jamaluddin Mangkurat V turunan ke 4 dari Raden
Paku Moh.Ainulyakin Prabusatmoto joko samudro Sunan Giri gresik Wali
songo bin Maulana Ishak Mahdum Syech Awalul Islam Samudra Pasai Aceh.
Pangeran
Moh.Ali
Seda Ing Pasarean atau Sultan Jamaluddin Mangkurat V ini hanya
memerintah selama satu tahun (1644-1645) karena mati terbunuh (diracun)
oleh pegawai Keraton Sabo kingking sendiri.
Raja Pelimbang ke IX
PANGERAN SEDA ING RAZAK (SULTAN ABDURROHIM JAMALUDDIN MANGKURAT VI)
Bin Mohammad ali Seda Ing Pasarean
Turunan ke – 5 dari Sunan Giri Gresik
walisongo, Pangeran Seda ing Razak ini adalah Dinasti Sabo KingKing
terakhir, Istana Sabo KingKing dibumi hangus oleh Angkatan Laut Belanda,
maka Sultan Abdurrohim Jamaluddin Mangkurat VI ini beserta keluarganya
berhijrah ke Indralaya OKI. Dan Beliau menjadi Sultan di Indralaya.
Adapun sebab perang dengan Belanda karena Seda ing Razak tidak mau
mengakui VOC dan tidak mau menandatangani kontrak, akhirnya Loji VOC di
batu hamper dibakar oleh rakyat atas perintah Sultan. Beliau dimakamkan
di desa SAKA TIGA Beliau memerintah selaku Raja Pelimbang ke IX selama
14 tahun (1645-1659) dan memerintah selaku Sultan di Indralaya selama 32
tahun (1659 – 1691).
Raja Pelimbang ke X
KI MAS HINDI (SULTAN ABDURRAHMAN JAMALUDDIN MANGKURAT VII)
Bin Mohammad Ali Seda Ing Pasarean
( Sultan Pelimbang Darussalam ke I )
Beliau adalah adik dari Seda ing Razak
atau Sultan Abdurrohim yang hijrah ke Indralaya, Beliau dinobatkan
menjadi Raja Pelimbang menggantikan kakaknya dimasa Gubernur Jendral
Mr.Johan
maaetsuiycker pada bulan juli 1659. Pada tahun 1675 Beliau mendirikan
KeSultanan Pelimbang Darussalam, dan oleh karena kakaknya selaku Sultan
di indralaya maka beliau memproklamirkan dirinya selaku SUSUHUNAN
Pelimbang Darussalam. Lokasi istananya adalah pada lokasi sekolah HIS
Kebon Duku 24 ilir Palembang di zaman Hindia Belanda. Atau lokasi SMP
Negeri Kobon Duku Palembang. Beliau dimakamkan di pemakaman Cinde Walang
di belakang pasar Cinde. Sultan Abdurrahman memerintah selaku Raja
Pelimbang ke X selama 16 tahun, (1659 – 1675) dan memerintah Selaku
Sultan Pelimbang Darussalam selama 23 tahun (1675 – 1698)
Sultan Pelimbang Darussalam ke II
SULTAN MOHAMMAD MANSYUR
Bin Sultan Abdurrahman Cinde Walang
Sultan Mohammad masyur atau Raden Ario
ini adalah anak kedua dari susuhunan Abdurrahman Cinde walang, beliau
memerintah selaku Sultan selama 12 Tahun (1698 – 1710) Lokasi istananya
dikelurahan KEBON GEDE 32 ilir Palembang dan dimakamkan dilokasi ini
juga. Beliau memerintah di Zaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem
Van Outhoorn, Johan van Hoorn, dan mininggal dunia di masa Abraham van
Riebeek, Sultan Muhammad Mansyur ini selanjutnya digantikan oleh anaknya
yang
bernama Ratu Purboyo, tetapi yang hanya satu hari menjadi Sultan karena wafat diracun.
Sultan Pelimbang Darussalam ke III
SULTAN AGUNG KOMARUDDIN SRI TERUNO
Bin Sultan Abdurrahman Cinde Walang
Raden Uju adalah adik kandung dari
Sultan Mohammad Mansur, memerintah selaku Sultan Pelembang Darussalam
selama 12 Tahun (1710 – 1722) dengan Gelarnya SULTAN AGUNG KOMARUDDIN
SRI TERUNO, Lokasi Istananya di kelurahan 1 ilir Palembang dan bermakam
ditempat ini juga. Beliau memerintah pada zaman Gubernur Jenderal
Abraham van Riebeek, Christoffel van swoll dan hendrik van zwaardekroon.
SULTAN DEPATI ANOM
Bin Sultan Mohammad Masyor
Sultan Depati Anom adalah Kemenakan dari
Sultan Agung Komaruddin, atau anak dari Sultan Mohammad Mansyur Kebon
Gede. Sultan Depati Anom ini adalah “Sultan intermezzo” karena
memaksakan diri menjadi Sultan. Sehingga Sultan Agung Komaaruddin
terpaksa mengangkatnya menjadi Sultan, dan Sultan Agung Komaruddin
menjadi Sultan AGUNG.
Sultan Depati Anom pada mulanya telah
meracuni kakaknya sendiri yaitu Pangeran Purbaya karena ingin menjadi
Putra Mahkota, sedangkan adiknya sendiri Pangeran Jaya warakrama
(Kemudian hari menjadai Sultan Mahmud Badaruddi I) dimusuhinya pula,
hingga Pangeran Jaya Wirakrama hijrah ke Johor Malaya. Sultan Depati
Anom bermakam di desa belida kecamatan Gelumbang, ia sempat menjadai
Sultan selam 9 tahun (1713 – 1722).
Sultan Pelimbang Darussalam ke IV
SULTAN MAHMUD BADARUDDIN LEMABANG
Sultan Mahmud Badaruddin I adalah Pangeran
Ratu Jaya Wikrama, anak ke 3 dari Sultan Mohammad Mansyur. Beliau
memindahkan lokasi Istananya ke 3 ilir Palembang, dan bermakam di lokasi
ini pula, Makamnya disebut Masyarakat sebagai Makam KAWAH TEKUREP.
Beliau membangun Pasar koto 10 ilir,
Membangun masjid Agung, membangun kraton kuto Lamo, dan membangun kraton
Koto Besak, yang ketika hayatnya baru mencapai 60%.Sultan Mahmud
Badaruddin I memerintah selama 34 tahun (1722 – 1756). Dimasa gubernur
jenderal Hendrik Van Zwaardek roon, Mettheus de haan, Diederik Van
Durven, van Cloon, Abraham Patras, Adriaan P. De Valckenier, Johannes
Theedens, Gustaaf willem Baron Van Imhoff dan Jacob Moseel
Sultan Pelimbang Darussalam ke V
SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN LEMABANG
Bin Sultan Mahmud Badaruddin
Dizaman Sultan Ahmad Najamuddin ini
tidak banyak perubahan kecuali merehabilitir masjid Agung, Beliau
memerintah selaku Sultan Pelembang Darussalam selama 24 tahun (1756 –
1780) dimasa Gubernur jenderal Jacob mossel, Petrus Albertus Van der
Parra, jeremias Van Riemsdijk dan Reinier de Klerk, Sultan Ahmad
Najamuddin dimakamkan dikomplek pemakaman Lemabang.
Sultan Pelimbang Darussalam ke VI
SULTAN MUHAMMAD BAHAUDDIN LEMABANG
Bin Sultan Ahmad Najamuddin
Memerintah selaku Sultan selama 27 tahun (1780 – 1807) dimasa gubernur jenderal rainier de klerk, mr.Willem Arnold alting,
mr.Peter Gerardus van Overstraten, Johannes Sieberg,dan Albertus henricus wise. Beliau bermakam di Lemabang.
Sultan Pelimbang Darussalam ke VII
SULTAN MAHMUD BADARAUDDIN (II) LEMABANG
Bin Sultan Muhammad Bahauddin
Sultan Mahmud Badaruddin II atau RADEN
HASAN memerintah selama 14 tahun (1807 – 1821) Semasa Gubernur Jenderal
Albertus HW, Herman Willem Daendels, Jan Willem Jansens, Lord E.O, Sir
Thomas Stamford Raffles, John fendall dan Mr. G.A.G Ph Van der Capellen.
Beliau amat anti kepada Inggris dan Belanda, hingga beberapa tahun
berperang barulah beliau dapat ditangkap dan ditawan oleh Belanda hingga
diasingkan ke Ternate dan wafat disana. Beliaulah Sultan Palembang
Darussalam yang sudah diakui sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional
dengan SK Presiden RI
No.063/TK/tahun 1984 tertanggal 29 oktober 1984.
L Sultan Pelimbang Darussalam ke VIII ukisan
SULTAN HUSIN DIA’UDDIN SOAKBATO
(Sultan Ahmad Najamuddin II)
Sultan Husin dia’uddin adalah Pangeran
Dipati atau adik kandung dari Sultan Mahmud Badarauddin II, Dengan
diasingkannya Sultan Mahmud Badaruddin II ke ternate maka habislah
dinasti Lemabang. dan berdirilah Dinasti baru yaitu DINASTI SOAK BATO.
Sultan Husin Dia’uddin adalah Sultan yang diangkat oleh Pemerintahan
Inggris, berhubung KRATON KUTO BESAK dikuasai Inggris maka Sultan Husin
Dia’uddin membangun Kraton di Soakbato sekarang masuk kampong 26 ilir
Palembang, Sementara itu Kraton Kadipaten masih tetap berdiri di
Kadipatenan yang lokasinya ditempati oleh rumah Ong Boen Tjit di SEKANAK
/ SUNGI TAWAR. Setelah Belanda berkuasa kembali di Pelembang, Belanda
menurunkan Sultan Husin Diauddin dan menobatkan kembali Sultan Mahmud
Badaruddin II. Sultan Husin Diauddin Wafat di kampong KRUKUT Jakarta
setelah sebelumnya ditawan dan diasingkan oleh Belanda ke Cianjur dan
dibawa kembali kebatavia. Beliau memerintah selam 9 tahun (1812 – 1821).
SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN (II) PANGERAN RATU
Bin Sultan Mahmud Badaruddin II
Beliau adalah anak Sultan Mahmud
Badaruddin II, Beliau memangku jabatan selaku Sultan “Intermezo” selama 5
tahun (1816 – 1821) Beliau adalah Panglima Perang saat bersama ayahnya
melawan Belanda, Tapi akhirnya Pangeran Ratu ditanggap dan dibuang ke
Cianjur, lalu dibuang ke pulau Banda hingga akhir hayatnya dan bermakam
disana
SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN (III) PRABU ANOM
( Sultan ke Pelimbang Darussalam ke IX )
Raden Ahmad adalah anak Sultan Husin
Dia’uddin, memerintah selaku Sultan Palembang Darussalam yang ke IX atau
yang terakhir. (1821 – 1825). Dengan gelarnya SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN
(III) PRABU ANOM. Pada tahun 1823 Sultan beserta rakyatnya melakukan
pemberontakan terhadap Belanda, tetapi akhirnya dapat dihancurkan oleh
Belanda dengan bantuan “Penghianat-Penghianat” hingga Sultan terpaksa
Hijrah ke Muara Enim, tetapi akhirnya setelah dibujuk dan dilakukan
penipuan-penipuan dengan perantaraan para penghianat, dapatlah ditawan
dan diasingkan ke kampung Krukut Jakarta menyusul Sultan Tua yang sudah
lebih dahulu ditawan disana hingga wafatnya.Dengan itu semua, maka
berakhirlah riwayat KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM karena sejak itu
BELANDA telah memerintah penuh : selaku penjajah ! Dan banyak
Sultan-Sultan Palembang Darussalam yang ditawan dan dibuang dari
Palembang oleh belanda
kesimpulan
sudah jelas ini orang jawa semua ngapa namanya kerajaan palembang kan oon yang namain